SPIDI Makkah Diluncurkan, 35 Santri Bersiap Belajar 2,5 Bulan di Tanah Suci

DIGITRIPX.ID — SPIDI resmi meluncurkan SPIDI Makkah Leadership Program (SMLP), sebuah program pendidikan yang memberikan kesempatan kepada santri untuk belajar dan tinggal di Makkah, Arab Saudi, selama 2,5 bulan. Program ini dirancang untuk memperkuat tiga pilar utama pendidikan, yakni Al-Qur’an, bahasa Arab, dan kepemimpinan.
Sebanyak 35 santri dipersiapkan mengikuti pengalaman belajar langsung di Tanah Suci. Termasuk berinteraksi dengan masyarakat setempat, memperdalam sejarah Rasulullah, memperkuat kemampuan bahasa Arab, dan meningkatkan kualitas ibadah. Peluncuran program tersebut menjadi bagian utama dari SPIDI Islamic Edufest yang digelar di Balai Prajurit Jenderal M. Yusuf, Makassar, Sabtu (10/10/2026).
Founder sekaligus Ketua Dewan Pembina SPIDI Female Boarding School, Ustadz Muzayyin Arif, menjelaskan, SPIDI Makkah merupakan bagian dari ikhtiar menghadirkan pendidikan Islam yang unggul dan berwawasan global. Program ini juga lahir dari gagasan untuk memperluas pengalaman belajar santri. Mereka tidak hanya memperoleh pembelajaran di lingkungan sekolah, tetapi juga berkesempatan merasakan kehidupan di Makkah secara langsung.
Direktur SPIDI Makkah, Muthahhir Arif, menjelaskan, program Living and Learning in Saudi Arabia memberikan kesempatan kepada santri untuk tinggal dan belajar selama 2,5 bulan di kampus SPIDI di Makkah.
Selama mengikuti program, santri akan berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat. Pengalaman ini diharapkan membuat proses pembelajaran lebih kontekstual dan membantu mereka menerapkan nilai-nilai yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari.
“Anak-anak kita akan tinggal dan berinteraksi langsung dengan masyarakat Makkah. Semoga setelah pulang, mereka tak hanya membawa pengalaman, tetapi juga menghadirkan Makkah dalam hati dan keseharian mereka,” ujar Muthahhir yang dalam acara hadir secara daring.
Penguatan bahasa Arab menjadi salah satu bagian penting dari program ini. Santri memperoleh kesempatan untuk berkomunikasi dengan penutur asli sehingga kemampuan bahasa tidak hanya dikembangkan melalui teori, tetapi juga melalui praktik langsung.
Selain itu, pengalaman berada di Makkah membuka kesempatan bagi santri untuk memperdalam sejarah Rasulullah dan memahami nilai-nilai perjuangan serta keteladanan Nabi dalam konteks yang lebih dekat dengan lingkungan sejarah Islam.
Dengan perpaduan tiga pilar pendidikan itu, SPIDI Makkah diharapkan dapat menjadi ruang pembelajaran yang mengintegrasikan pengetahuan, pengalaman spiritual, dan pengembangan kepemimpinan.
Syamsi Ali: Pendidikan Islam Harus Mampu Mengikuti Perubahan Zaman
Tokoh Muslim internasional, Imam Syamsi Ali, yang hadir dalam peluncuran program, menekankan pentingnya pendidikan Islam yang mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan pijakan nilai-nilai Al-Qur’an.
Menurut Syamsi Ali, dunia bergerak dalam kecepatan tinggi dan semakin terhubung. Kemampuan beradaptasi dengan perkembangan global merupakan bagian dari proses pendewasaan generasi muda. “Itu tergambar dari program SPIDI Makkah ini,” katanya.
Era sekarang ini, Syamsi Ali berpesan, santri perlu memperkuat penguasaan bahasa asing, terutama bahasa Arab dan bahasa Inggris, agar mampu berkomunikasi dan mengambil peran dalam lingkungan internasional. Bahasa, dalam konteks tersebut, bukan sekadar mata pelajaran. Kemampuan berbahasa menjadi jembatan untuk membangun hubungan, memahami perbedaan, dan memperluas wawasan.
Syamsi Ali juga menekankan pentingnya sikap terbuka terhadap perbedaan. Penolakan terhadap perbedaan, menurut dia, tidak sejalan dengan nilai-nilai Al-Qur’an.
Pendidikan Islam, dengan demikian, perlu menyiapkan generasi yang kokoh dalam keyakinan, tetapi tetap mampu berinteraksi secara dewasa dengan masyarakat yang beragam.
Ia juga menyoroti perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Kemajuan teknologi tidak seharusnya dijauhi oleh umat Islam. Sebaliknya, umat perlu memahami dan memanfaatkannya tanpa meninggalkan prinsip-prinsip keislaman.
Pandangan tersebut memberikan konteks lebih luas bagi SPIDI Makkah Leadership Program. Pengalaman belajar di Tanah Suci diharapkan tidak hanya memperkuat identitas keislaman santri, tetapi juga mempersiapkan mereka menghadapi dunia yang semakin terhubung.
Bupati Maros, Chaidir Syam: Kita Bangga SPIDI Hadir di Maros
Dukungan terhadap pengembangan SPIDI juga disampaikan Bupati Maros, H. A. S. Chaidir Syam. Ia menyampaikan kebanggaannya terhadap keberadaan SPIDI sebagai lembaga pendidikan yang berkembang di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Kebanggaan tersebut berkaitan dengan peran pendidikan dalam menyiapkan generasi masa depan. Pendidikan bukan hanya urusan sekolah atau keluarga, melainkan investasi jangka panjang bagi daerah, bangsa, dan agama.
Pesan itu sejalan dengan pandangan bahwa siapa yang mengurus pendidikan anak-anak hari ini, sesungguhnya sedang mengurus masa depan. “Masa depan daerah, masa depan bangsa, dan masa depan agama,” ujar alumnus Pesantren IMMIM ini.
Dalam konteks tersebut, keberadaan lembaga pendidikan yang mengembangkan wawasan global sekaligus menjaga fondasi keislaman menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi yang mampu menghadapi tantangan zaman.
Bagi Maros, pengembangan pendidikan seperti ini juga menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa lembaga pendidikan daerah dapat membangun pengalaman belajar yang menjangkau lingkungan internasional.
Wakil Wali Kota Makassar, Aliyah Mustika Ilham: Kecerdasan Harus Berjalan Bersama Akhlak
Wakil Wali Kota Makassar, Hj. Aliyah Mustika Ilham, juga hadir dalam acara. Ia hadir mewakili Wali Kota yang sedang tugas luar. Aliyah menyampaikan salam dan permohonan maaf Wali Kota, Munafri Arifuddin hadir membuka acara.
Dalam sambutannya, Aliyah menyoroti pentingnya keseimbangan antara kecerdasan dan akhlak dalam pendidikan. “Kecerdasan tanpa akhlak akan kehilangan arah,” tegasnya.
Pandangan ini menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari kemampuan akademik atau penguasaan teknologi. Pendidikan juga harus membentuk karakter, tanggung jawab, dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai kebaikan.
Dalam konteks pendidikan Islam, kecerdasan dan akhlak perlu berjalan beriringan. Santri diharapkan mampu mengembangkan kompetensi, tetapi tetap memiliki pegangan moral ketika menggunakan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki.
Salah satu momen utama dalam peluncuran SMLP adalah prosesi pemasangan kartu identitas secara simbolis kepada 35 santri yang akan mengikuti program. Proses tersebut menandai kesiapan mereka untuk menjalani pengalaman belajar di Makkah.
Menyiapkan Generasi yang Berakar dan Berwawasan Global
Peluncuran SPIDI Makkah Leadership Program membawa pesan bahwa pendidikan Islam perlu mempersiapkan generasi yang mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai dasarnya.
Pengalaman belajar selama 2,5 bulan di Makkah menjadi salah satu pendekatan untuk memperluas wawasan santri melalui pembelajaran Al-Qur’an, bahasa Arab, kepemimpinan, dan interaksi langsung dengan lingkungan masyarakat.
Di sisi lain, pesan yang disampaikan Syamsi Ali, Chaidir Syam, dan Aliyah Mustika Ilham memperlihatkan tiga dimensi penting pendidikan: kesiapan menghadapi dunia global, dukungan daerah terhadap pengembangan generasi masa depan, serta keseimbangan antara kecerdasan dan akhlak.
Ketiganya bertemu pada satu gagasan: pendidikan tidak berhenti pada proses memperoleh pengetahuan. Pendidikan harus menyiapkan manusia yang mampu menggunakan pengetahuannya secara bertanggung jawab.
Melalui SPIDI Makkah Leadership Program, pengalaman di Tanah Suci diharapkan menjadi bekal bagi santri untuk tumbuh dengan pemahaman keislaman yang kuat, kemampuan berkomunikasi yang lebih baik, serta wawasan dan karakter kepemimpinan yang dapat diterapkan ketika kembali ke lingkungan masing-masing. ($)



