Unhas-UKM Perkuat Promosi Digital UMKM Desa Ara Berbasis Budaya Pinisi

DigiTripX.id – Universitas Hasanuddin (Unhas) bersama Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) memperkuat kapasitas pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Desa Ara, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, melalui pelatihan promosi digital berbasis media sosial dan penguatan branding budaya maritim.
Pelatihan tersebut menjadi bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Hasanuddin–Program Kemitraan (PPMU-PK) Tahun 2026. Kegiatan digelar di Aula Kantor Desa Ara, Rabu, 29 Juli 2026, dengan mengangkat tema “Pemberdayaan UMKM Desa Ara melalui Pelatihan Promosi Digital Berbasis Media Sosial dan Penguatan Branding Budaya Maritim”.
Kegiatan yang dimulai pukul 14.00 WITA itu dibuka langsung oleh Kepala Desa Ara, Dr. H. Amiruddin Rasyid, M.Pd., dan diikuti pelaku UMKM yang bergerak di bidang kuliner, fashion, produk lokal, serta jasa wisata.
Program tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis Ke-70 Universitas Hasanuddin. Pada 2026, sejumlah program pengabdian Unhas dipusatkan di Kabupaten Bulukumba dan Kabupaten Kepulauan Selayar.
Potensi UMKM Desa Ara Didorong Masuk Ruang Digital
Desa Ara memiliki kekayaan ekonomi, wisata, dan budaya yang menjadi modal penting bagi pengembangan UMKM. Selain produk kuliner, fashion, suvenir, dan jasa wisata, desa ini dikenal sebagai Butta Panrita Lopi atau tanah para ahli pembuat perahu pinisi.
Sejumlah destinasi wisata seperti Tebing Apparalang, Pantai Mandala Ria, dan Goa Passohara turut menjadi potensi yang dapat mendukung perekonomian masyarakat setempat.
Tradisi pembuatan perahu pinisi dari Sulawesi Selatan juga telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2017.

Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya diimbangi kemampuan masyarakat dalam melakukan promosi secara mandiri melalui kanal digital. Sejumlah destinasi wisata Desa Ara bahkan lebih banyak dikenal melalui konten yang diproduksi oleh pihak luar.
Kepala Desa Ara, Dr. H. Amiruddin Rasyid, mengatakan pelatihan promosi digital dibutuhkan oleh pelaku usaha dan pengelola jasa wisata di wilayahnya.
“Kami menyambut baik kehadiran tim Unhas yang melakukan pengabdian di Desa Ara. Selama ini kami memang memerlukan pelatihan ini karena banyak UMKM di desa kami, baik yang menawarkan produk maupun jasa, tetapi pemasarannya melalui media sosial belum maksimal,” ujarnya.
Ia mencontohkan Tebing Apparalang yang telah dikenal luas melalui promosi dari pihak luar. Menurutnya, masyarakat Desa Ara perlu memiliki kemampuan untuk mengelola sekaligus mempromosikan potensi daerahnya secara mandiri.
Branding Pinisi Jadi Identitas UMKM Desa Ara
Pelatihan tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Nosakros Arya, S.Sos., M.I.Kom., dari Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Hasanuddin dan Dr. Ammar Redza Ahmad Rizal dari Pusat Kajian Komunikasi dan Media, Fakulti Sains Sosial dan Kemanusiaan, Universiti Kebangsaan Malaysia.
Nosakros Arya menjelaskan bahwa budaya maritim Desa Ara dapat dikembangkan menjadi identitas sekaligus pembeda bagi produk dan jasa UMKM setempat.
Menurutnya, identitas pinisi tidak harus berhenti pada penggunaan logo. Unsur budaya tersebut dapat diterapkan melalui warna, slogan, kemasan, narasi produk, hingga gaya komunikasi di media sosial.
“Di Desa Ara terdapat banyak pelaku UMKM yang telah lama menjalankan usaha, mulai dari kuliner, fashion, hingga jasa wisata. Identitas pinisi penting dikembangkan sebagai simbol unik yang membedakan UMKM Desa Ara dari usaha sejenis di daerah lain,” katanya.
Pelatihan menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR). Melalui pendekatan ini, peserta tidak hanya menjadi penerima materi, tetapi turut terlibat dalam diskusi, mengidentifikasi persoalan usaha, serta mempraktikkan penyusunan konten promosi sesuai karakter produk masing-masing.
Baca Juga : Unhas Bekali 10 Santri Abu Muhammad dengan Keterampilan Produksi Konten Dakwah Digital
Pelaku UMKM Belajar Foto Produk hingga Storytelling
Materi pelatihan mencakup lima keterampilan utama yang saling berkaitan, yakni produksi konten visual, pemanfaatan media sosial, penguatan branding budaya maritim, storytelling produk, dan manajemen konten digital.
Dalam produksi konten visual, peserta diperkenalkan pada teknik sederhana mengambil foto produk menggunakan telepon genggam. Teknik tersebut mencakup pemanfaatan cahaya alami, penggunaan latar yang bersih, pemilihan sudut pengambilan gambar, serta penataan produk agar terlihat lebih menarik.
Peserta juga diarahkan membuat video pendek berdurasi 15 hingga 30 detik yang menampilkan produk, proses produksi, serta sosok pelaku usaha.
Konten semacam itu dinilai dapat membangun kepercayaan konsumen karena audiens tidak hanya melihat produk yang ditawarkan, tetapi juga mengenal cerita dan orang di balik produk tersebut.
Selain visual, peserta mempelajari penyusunan caption promosi dengan struktur yang mencakup masalah konsumen, solusi yang ditawarkan produk, serta ajakan bertindak atau call to action.
Informasi pemesanan dan nomor WhatsApp juga ditekankan sebagai bagian penting dalam konten promosi agar unggahan tidak berhenti sebagai informasi, tetapi dapat mendorong terjadinya transaksi.
Dalam pengelolaan konten, peserta diperkenalkan pada pola 3-2-1, yakni tiga foto produk, dua video proses produksi, dan satu konten cerita atau siaran langsung setiap minggu.
Pola tersebut dirancang agar pelaku UMKM dapat melakukan promosi secara konsisten tanpa harus terbebani dengan produksi konten setiap hari.

UKM Bagikan Strategi Branding UMKM
Sementara itu, Dr. Ammar Redza Ahmad Rizal membagikan strategi pemilihan warna merek dengan komposisi 60-30-10. Komposisi tersebut terdiri atas 60 persen warna utama, 30 persen warna pendukung, dan 10 persen warna penegas.
Menurutnya, pemilihan warna dapat disesuaikan dengan karakter produk maupun unsur lokal yang menjadi identitas Desa Ara, seperti warna laut, kayu perahu, layar pinisi, maupun bahan baku produk.
“Kolaborasi lintas negara seperti ini memperkaya kedua belah pihak. Praktik pemasaran digital UMKM di Ara memberi pelajaran berharga yang juga relevan bagi konteks pemberdayaan usaha mikro di Malaysia,” ujar Ammar.
Keterlibatan akademisi Universiti Kebangsaan Malaysia memberikan dimensi internasional dalam program pengabdian tersebut. Kolaborasi ini mempertemukan pengalaman pemberdayaan UMKM di Indonesia dengan perspektif komunikasi dan media dari Malaysia.
Unhas Dorong UMKM Desa Ara Berdaya Saing
Program pengabdian tersebut dikoordinasikan oleh Nosakros Arya bersama anggota tim Sartika Sari Wardanhi D.H. Pasha, S.Sos., M.I.Kom. dan Dr. Andi Ahmad Hasan Tenriliweng, S.ST., M.Si., serta melibatkan mahasiswa Universitas Hasanuddin.
Setelah pelatihan, peserta didorong untuk terus mengembangkan akun media sosial usaha, memproduksi konten secara rutin, serta menerapkan identitas budaya maritim dalam materi promosi.
Untuk mendukung keberlanjutan program, tim juga mempersiapkan modul, template konten, dan panduan branding yang dapat digunakan pelaku UMKM dalam mengembangkan promosi digital.
Melalui program tersebut, Universitas Hasanuddin menegaskan komitmennya untuk mendekatkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Penguatan keterampilan promosi digital diharapkan dapat membuat pelaku UMKM Desa Ara tidak hanya memiliki produk dan potensi budaya, tetapi juga mampu menceritakan, mempromosikan, dan mengembangkan potensi tersebut secara mandiri di ruang digital.



