Unhas Bekali 10 Santri Abu Muhammad dengan Keterampilan Produksi Konten Dakwah Digital

DigiTripX.id – Universitas Hasanuddin (Unhas) melalui program pengabdian kepada masyarakat membekali sepuluh santri Pondok Pesantren Abu Muhammad Makassar dengan keterampilan produksi konten dakwah digital. Program bertajuk “Penguatan Manajemen Dakwah Digital Pesantren melalui Peningkatan Literasi Digital dan Produksi Konten Dakwah Audiovisual” ini dirancang untuk mempersiapkan para santri menjadi penggerak dakwah digital yang mandiri dan berkelanjutan.
Tidak hanya belajar mengoperasikan kamera dan mengedit video, para santri juga dibekali kemampuan mengelola produksi siaran agar mampu menjalankan studio podcast pesantren secara profesional. Program ini merupakan bentuk kolaborasi antara perguruan tinggi dan pesantren dalam menghadapi transformasi digital di bidang dakwah.
Tiga Tahap Pelatihan Produksi Konten Digital
Program pengabdian masyarakat Unhas dilaksanakan dalam tiga tahap pelatihan yang berlangsung sejak Juni hingga Agustus 2026. Tahap pertama berupa Pelatihan Teknik Kamera pada 20 Juni 2026, dilanjutkan dengan Pelatihan Editing pada 18 Juli 2026, dan diakhiri dengan Pelatihan Manajemen Produksi Siaran Dakwah Digital pada 8 Agustus 2026.
Sepuluh santri dipilih secara khusus untuk mengikuti seluruh rangkaian pelatihan tersebut. Mereka dipersiapkan tidak hanya menguasai keterampilan teknis produksi audiovisual, tetapi juga memahami keseluruhan proses produksi konten digital, mulai dari perencanaan, pengambilan gambar, pengolahan materi, hingga pengelolaan sebuah produksi siaran.
Ketua tim pengabdian masyarakat Unhas, Nosakros Arya, menjelaskan bahwa program tersebut dirancang untuk memberikan pemahaman menyeluruh tentang produksi konten dakwah digital.
“Program ini tidak akan berhenti setelah rangkaian pelatihan selesai. Secara berkelanjutan, tim kami akan tetap mendampingi para santri untuk mengembangkan dakwah digital secara lebih intensif,” ujar Nosakros.

Baca Juga : Unhas Perkuat Kapasitas Kelompok Usaha Tegar Mandiri melalui Pemasaran Digital
Membangun Ekosistem Dakwah Digital Pesantren
Pimpinan Pondok Pesantren Abu Muhammad Makassar, Habib Husain Achmad Al-Hamid, menyambut positif pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, pemilihan peserta dalam jumlah terbatas dilakukan agar para santri memperoleh pendampingan yang lebih intensif dan selanjutnya mampu menjadi pengelola studio podcast pesantren.
“Kami sangat bersyukur dan berterima kasih atas bantuan dari tim pengabdian masyarakat yang telah meluangkan waktu, tenaga, pikiran, serta keterampilannya dalam mendampingi santri-santri terpilih. Sengaja kami memilih 10 santri agar mereka dapat belajar mengelola dan menjalankan studio podcast pesantren kami,” kata Habib Husain.
Keberadaan studio podcast di lingkungan Pondok Pesantren Abu Muhammad menjadi salah satu potensi yang ingin dioptimalkan melalui program tersebut. Sepuluh santri peserta pelatihan diharapkan dapat menjadi embrio tim produksi yang nantinya menjalankan aktivitas podcast maupun produksi konten dakwah audiovisual lainnya.
Dari Teknik Dasar hingga Manajemen Produksi
Pada pelatihan tahap pertama, peserta mempelajari teknik dasar pengoperasian kamera dan prinsip pengambilan gambar untuk produksi audiovisual. Keterampilan tersebut menjadi fondasi penting karena konten dakwah di platform digital saat ini tidak hanya membutuhkan substansi yang kuat, tetapi juga penyajian visual yang mampu menarik perhatian audiens.
Pelatihan kemudian berlanjut pada tahap editing. Para santri mendapatkan pemahaman mengenai bagaimana materi yang telah direkam dapat diolah menjadi konten audiovisual yang lebih terstruktur, komunikatif, dan sesuai dengan karakter platform digital.
Tahap ketiga memperluas kemampuan peserta dari aspek teknis menuju manajemen produksi siaran dakwah digital. Pada tahap ini, peserta diarahkan untuk memahami bagaimana sebuah produksi direncanakan dan dikelola, termasuk penyiapan materi, pembagian tugas tim, proses produksi, hingga distribusi konten melalui kanal digital.
Transformasi Dakwah di Era Digital
Nosakros Arya menambahkan, perkembangan media digital memberikan peluang besar bagi pesantren untuk memperluas jangkauan dakwah. Jika sebelumnya penyampaian ilmu keagamaan lebih banyak berlangsung melalui pertemuan langsung, teknologi digital memungkinkan kajian dan berbagai pengetahuan keislaman menjangkau masyarakat tanpa dibatasi ruang dan waktu.

“Kami ingin pesantren semakin maju dan mampu memanfaatkan berbagai platform digital, khususnya YouTube, untuk menyebarluaskan ilmu-ilmu agama Islam kepada masyarakat yang lebih luas,” ujar Nosakros.
Karena itu, penguatan sumber daya manusia menjadi bagian penting dari transformasi digital pesantren. Perangkat produksi saja dinilai tidak cukup jika tidak disertai kemampuan merencanakan, memproduksi, mengemas, dan mengelola konten secara berkelanjutan.
Membangun Tim Dakwah Digital yang Terstruktur
Pelatihan tidak diarahkan sekadar untuk menghasilkan peserta yang mampu mengoperasikan peralatan, tetapi untuk membangun tim dakwah digital pesantren yang memiliki pembagian peran dan pola kerja produksi yang lebih terstruktur.
Pendekatan tersebut sejalan dengan tujuan program untuk meningkatkan literasi digital sekaligus membangun sistem manajemen dakwah digital di lingkungan pesantren. Media sosial dan platform berbasis video diharapkan dapat dimanfaatkan bukan hanya sebagai sarana publikasi, tetapi juga sebagai ruang pendidikan dan penyebaran nilai-nilai keislaman kepada masyarakat.
Program ini juga mendorong peserta memahami pentingnya etika dalam bermedia digital. Kemampuan teknis produksi perlu berjalan bersama dengan kesadaran mengenai ketepatan informasi, tanggung jawab dalam menyampaikan pesan keagamaan, serta kemampuan mengemas dakwah secara komunikatif tanpa kehilangan substansi.
Menjangkau Audiens Lebih Luas melalui Platform Digital
Transformasi pola konsumsi media membuat pesantren menghadapi audiens yang semakin akrab dengan YouTube, media sosial, video pendek, dan podcast. Kondisi tersebut sekaligus membuka peluang bagi lembaga pendidikan keagamaan untuk menghadirkan sumber informasi keislaman yang kredibel di tengah derasnya arus informasi digital.
Melalui peningkatan keterampilan produksi audiovisual, para santri diharapkan dapat mengambil peran lebih besar dalam proses tersebut.
Tim pengabdian Unhas selanjutnya akan melanjutkan pendampingan untuk mendorong keterampilan yang diperoleh selama tiga kali pelatihan dapat diterapkan dalam kegiatan produksi nyata. Pendampingan tersebut sekaligus diarahkan untuk membangun konsistensi produksi serta pengelolaan kanal dakwah digital pesantren.
Kolaborasi antara perguruan tinggi dan pesantren ini diharapkan menjadi langkah awal bagi terbentuknya ekosistem dakwah digital yang lebih mandiri di Pondok Pesantren Abu Muhammad Makassar.
Dari kamera, ruang editing, hingga studio podcast, para santri kini tidak hanya dipersiapkan menjadi penerima informasi di era digital, tetapi juga produsen konten yang mampu membawa ilmu dan pesan-pesan keislaman menjangkau audiens yang lebih luas melalui ruang digital.



