
DigiTripX.id – Dunia pendidikan Indonesia sedang berhadapan dengan dua krisis moral yang menguji kepedulian kita terhadap korban sekaligus mencerminkan degradasi rasa hormat generasi muda. Dalam sepekan terakhir, publik dihebohkan oleh dua peristiwa viral yang berbeda lokasi dan bentuk, tetapi sama-sama menyentuh akar permasalahan yang sama, gagalnya pendidikan karakter di ranah keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Di satu sisi, beredar tangkapan layar percakapan diduga orang tua mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) yang justru menyalahkan pihak pembocor kasus pelecehan seksual di kampusnya. Di sisi lain, video aksi tak sopan sejumlah siswa terhadap guru di SMA Negeri 1 Purwakarta menjadi viral dan menuai kecaman nasional.
Lalu, apa kata psikolog tentang fenomena ini? Istiana Tajuddin, S.Psi., M.Psi., Psikolog, memberikan analisis mendalam yang tidak hanya menyoroti perilaku remaja, tetapi juga tanggung jawab orang tua dan sistem pendidikan.
Ketika Orang Tua Mahasiswa FH UI Lebih Cemas pada Reputasi daripada Korban
Beredar tangkapan layar percakapan WhatsApp yang diduga berisi para orang tua mahasiswa FH UI. Alih-alih memberikan dukungan kepada korban pelecehan seksual, mereka justru menyalahkan sosok yang pertama kali mengungkap kasus ini ke publik. Isi percakapan menunjukkan kekhawatiran bahwa kasus ini telah menjadi berita nasional dan merugikan nama baik fakultas.
“Kenapa harus dipublikasikan? Pembocor chat tidak bijak, ini membuat kasus menjadi bola liar,” demikian nada yang terpancar dari percakapan tersebut.
Hingga kini, keaslian chat belum dapat dipastikan. Namun, percakapan ini sudah memicu kecaman publik karena dinilai tidak berpihak pada korban. Sementara itu, para terduga pelaku pelecehan terancam mendapatkan sanksi berat sesuai kode etik sivitas akademika dan peraturan perundang-undangan.
Baca Juga : Pulang Sebelum Gelap: Menjaga Anak di Era Kebebasan Semu!
Aksi Tak Sopan Siswa Purwakarta, Viral dan Membuat Miris
Di waktu yang hampir bersamaan, sebuah video memperlihatkan dugaan tindakan tidak pantas sejumlah siswa terhadap guru di SMA Negeri 1 Purwakarta. Adegan ketidakhormatan yang terekam dan tersebar luas di media sosial ini menambah panjang daftar kasus degradasi moral di lingkungan pendidikan.
Guru yang seharusnya dihormati justru menjadi sasaran perilaku yang jauh dari nilai-nilai budaya Indonesia. Publik bertanya, sampai di mana rasa hormat generasi muda kepada pendidiknya?

Hambatan Perkembangan Psikososial Menurut Psikolog
Meninjau kedua kasus ini, Istiana Tajuddin, S.Psi., M.Psi., Psikolog, melihat adanya hambatan dalam perkembangan psikososial pada anak dan remaja saat ini.
“Hal ini ditandai dengan ketidakmampuan untuk mengenali kepatutan dalam bertindak menurut norma dan budaya yang berlaku di masyarakat,” ujar Istiana ketika dimintai pendapatnya, Rabu (22/4).
Menurut psikolog yang berpraktik di bidang perkembangan anak dan remaja ini, anak-anak tidak diajarkan untuk mengembangkan kemampuan mengendalikan diri sebagai upaya menjaga keselarasan dalam relasi interpersonal dengan orang lain.
“Anak tidak mampu mengenali otonomi dalam dirinya, yakni kemampuan untuk mengarahkan diri karena menyadari bahwa setiap tindakannya dapat berdampak pada orang lain,” tegasnya.
Akar Masalah: Dimulai dari Rumah, Diperparah oleh Gaya Hidup Individualis
Istiana Tajuddin menyoroti bahwa persoalan ini berakar dari lingkungan keluarga. Orang tua, dalam tekanan memenuhi kebutuhan ekonomi dari primer hingga tersier, kerap kurang mampu menjadi agen penghidup norma dan budaya di rumah.
“Orang tua merasa cukup jika kebutuhan materi anak terpenuhi, namun kurang perhatian terhadap nilai-nilai, norma, dan budaya dalam menjalin relasi interpersonal dengan orang lain,” jelasnya.
Fenomena ini, menurut Istiana, diperparah oleh suburnya nilai-nilai individualis dalam masyarakat modern. Anak-anak tumbuh tanpa pemahaman bahwa eksistensi mereka harus diimbangi dengan tanggung jawab sosial.
“Anak yang kemudian bertumbuh menjadi remaja mengembangkan identitas yang miskin terhadap nilai-nilai dan norma yang berisi kepatutan dalam berinteraksi sosial di masyarakat Indonesia. Eksistensi yang dicari adalah eksistensi diri yang hampa dengan nilai-nilai tersebut,” pungkas psikolog lulusan Universitas Indonesia ini.
Baca Juga : Apa Itu Deepfake? Ini Bahaya Teknologi, yang Perlu Kamu Tahu!
Bukan Saatnya Menunjuk Jari
Menghadapi dua krisis ini, Istiana mengajak semua pihak untuk tidak saling menyalahkan. Menurutnya, ini adalah alarm bagi sistem pendidikan kita.
Beberapa langkah bijak yang direkomendasikan:
-
Integrasi pendidikan karakter secara substantif di semua jenjang pendidikan, bukan sekadar teori.
-
Orang tua harus menjadi teladan – anak belajar hormat dari melihat cara orang tua memperlakukan orang lain, bukan dari nasihat.
-
Literasi digital berbasis moral – media sosial bukan musuh, tetapi perlu filter nilai sebelum mengunggah sesuatu.
-
Prioritaskan dukungan kepada korban – dalam kasus pelecehan seksual, tidak ada nama baik institusi yang lebih berharga dari keadilan bagi korban.
Masih Ada Harapan
Kasus di FH UI dan SMA Purwakarta adalah cermin, bukan vonis mati bagi generasi muda Indonesia. Dengan kesadaran kolektif dari orang tua, pendidik, dan masyarakat, krisis ini bisa menjadi titik balik untuk membangun kembali fondasi moral bangsa.
“Kita semua bertanggung jawab. Jangan biarkan anak-anak tumbuh menjadi generasi yang pandai secara kognitif tetapi hampa nilai,” pesan Istiana Tajuddin mengakhiri perbincangan.



