Buka Kartu

Anggiat Sinaga Menyesal Memecat Karyawan: Dulu Tegas, Kini Lebih Bijak

Buka Kartu #004

DIGITRIPX.ID — Menjadi pemimpin bukan hanya soal berani mengambil keputusan. Ada kalanya, keputusan yang terasa benar pada saat itu justru menjadi pelajaran paling berharga di kemudian hari.

Anggiat Sinaga pernah mengalaminya.

Pada usia 21 tahun, ia sudah memegang tanggung jawab besar sebagai general manager. Posisi yang membuatnya harus mengambil keputusan, menegakkan aturan, sekaligus memastikan operasional hotel berjalan sesuai standar.

Di usia semuda itu, ketegasan menjadi bagian penting dari cara ia memimpin.

Namun, ada satu pengalaman yang terus memberinya pelajaran tentang bagaimana seharusnya seorang pemimpin memperlakukan bawahannya.

Ceritanya bermula dari donat.

Seorang karyawan perempuan diketahui membawa pulang donat. Bagi Anggiat saat itu, persoalannya bukan semata-mata soal nilai barang yang dibawa. Ada aturan yang harus ditegakkan.

Ia kemudian mengambil keputusan tegas: karyawan tersebut dipecat.

Belakangan, Anggiat mengetahui alasan di balik tindakan karyawan itu. Donat yang dibawanya pulang ternyata untuk anaknya.

Informasi tersebut mengubah cara Anggiat memandang peristiwa itu.

Ia menyadari, ada sisi kemanusiaan yang tidak cukup ia pertimbangkan ketika mengambil keputusan. Apa yang dilihatnya saat itu adalah pelanggaran aturan. Namun, ada cerita di balik tindakan tersebut yang belum ia pahami.

Anggiat pun menyesali keputusannya.

Ia meminta maaf dan mengakui bahwa persoalan itu semestinya bisa disikapi dengan cara berbeda. Teguran mungkin sudah cukup, tanpa harus berujung pada pemecatan.

Bagi seorang pemimpin, mengakui kekeliruan bukan perkara mudah. Terlebih ketika keputusan tersebut diambil dengan keyakinan bahwa dirinya sedang menegakkan disiplin.

Tetapi pengalaman itu mengajarkan Anggiat bahwa ketegasan tidak harus selalu berakhir dengan hukuman paling berat.

Aturan tetap penting. Disiplin tetap diperlukan. Namun, pemimpin juga perlu memahami konteks, mendengarkan penjelasan, dan melihat manusia di balik setiap persoalan.

Pengalaman tersebut menjadi refleksi penting bagi Anggiat, yang pada usia muda telah dipercaya menjadi general manager.

Jabatan memang memberinya kewenangan untuk mengambil keputusan. Tetapi pengalaman hidup perlahan mengajarkannya bahwa kewenangan harus berjalan bersama kebijaksanaan.

Seorang pemimpin tidak cukup hanya bertanya, aturan apa yang dilanggar?

Ia juga perlu bertanya, mengapa hal itu terjadi? Apakah ada keadaan yang belum saya pahami? Adakah cara yang lebih manusiawi untuk menyelesaikan persoalan ini?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang membedakan ketegasan dengan kekakuan.

Kisah donat tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, di baliknya tersimpan pelajaran besar tentang kepemimpinan: keputusan tidak boleh hanya lahir dari posisi dan kewenangan, tetapi juga dari kemampuan memahami keadaan orang lain.

Bagi Anggiat, pengalaman itu menjadi pengingat bahwa menjadi pemimpin bukan berarti selalu benar. Pemimpin juga harus berani mengakui kesalahan, meminta maaf, dan belajar dari keputusan yang pernah diambilnya.

Sebab, semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk tidak kehilangan sisi kemanusiaan.

Simak kisah lengkap Anggiat Sinaga tentang karier, keputusan, dan pelajaran kepemimpinan dalam podcast Buka Kartu #004 di kanal YouTube  buka kartu – YouTube.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button