Academy

Hikayat Sawitto Naskah Kuno Cerita Lisan Sejarah Bugis Makassar

DigiTripX.id – Sebuah naskah ketik berusia hampir seabad berhasil membuka wawasan baru tentang bagaimana masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya Bugis dan Makassar, meneruskan ingatan tentang masa lalu mereka. Naskah yang di juluki Hikajat Sawitto (hS) ini menjadi bukti nyata bahwa dalam tradisi sejarah lokal. Kelisanan (oralitas) memainkan peran yang jauh lebih sentral daripada yang selama ini diduga.

Naskah setebal 12 halaman yang menggunakan aksara Latin dan bahasa Melayu ini di susun pada era 1930-an. Uniknya, sumbernya bukan dari dokumen-dokumen tua, melainkan dari cerita lisan (oral sources) yang di tuturkan oleh para tetua masyarakat.

Temuan Tak Terduga dalam Naskah Kuno

Hikajat Sawitto bukan di temukan dalam kondisi yang biasa. Naskah ini terselip secara longgar di dalam sebuah manuskrip lain dari abad ke-19 yang di tulis dalam aksara Bugis. Manuskrip tersebut di filmkan pada tahun 1990-an oleh Arsip Nasional Indonesia Cabang Makassar, dan hS muncul seperti sisipan yang tak terduga.

Apa yang membedakan hS dari teks sejarah tradisional Bugis lainnya? Pertama, formatnya sudah modern untuk zamannya. Di ketik dengan mesin tik, menggunakan ejaan Van Ophuijsen yang lazim di pakai di awal abad ke-20. Kedua, dan ini yang paling penting, sang penulis secara sadar mencantumkan dan mengomentari sumber-sumber lisan yang di gunakannya, sebuah langkah yang sangat tidak umum dalam historiografi tradisional.

Baca Juga : Jejak Ribuan Tahun di Mallawa: Bukti Evolusi Budaya Manusia!

Melampaui “Kronik”: Memahami Attoriolong

Artikel Academa Stephen C. Druce  (Deputy Director at Universiti Brunei Darussalam) yang membahas hS ini memulai dengan menjelaskan keragaman karya prosa sejarah Sulawesi Selatan, atau yang dalam bahasa Bugis/Makassar di sebut attoriolong atau patturioloang (yang berarti [tulisan] tentang orang-orang zaman lampau).

Istilah ini sering disalahartikan sebagai “kronik”, padahal kenyataannya jauh lebih kompleks. Seperti di ungkapkan Campbell Macknight (1984), sebuah “karya” dalam tradisi naskah Sulawesi Selatan adalah komposisi yang unik. Ia bisa merupakan kumpulan dari berbagai materi lisan dan tulisan yang sebelumnya independen. Lalu disatukan oleh penulisnya untuk menciptakan sebuah narasi baru. Karya ini bisa lahir pertama kali dalam bentuk lisan, tulisan, atau kombinasi keduanya.

Hikajat Sawitto: Jembatan antara Lisan dan Tulisan

Hikajat Sawitto adalah contoh sempurna dari proses ini. Teks ini tidak lahir dari vakum. Ia di susun dari berbagai sumber independen yang di dengar penulisnya. Fokusnya adalah pada sejarah Kerajaan Sawitto, yang merupakan bagian dari konfederasi Ajattappareng (“[Tanah] di sebelah barat danau”) bersama empat kerajaan tetangga lainnya sejak abad ke-16. Wilayah Toraja di utara juga di sebutkan secara prominent dalam naskah.

Kehadiran hS justru menguatkan argumen bahwa karya-karya tulis tidak mewakili seluruh sumber sejarah Bugis dan Makassar. Sebaliknya, oralitaslah yang menjadi tulang punggung utama transmisi pengetahuan sejarah, sementara teks tertulis seringkali hanya menjadi “penyimpan” atau rekaman dari tradisi lisan tersebut.

Sumber : Academia

Digitripx

Your Digital Destination. Channel Youtube : DigiTripX Media

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button