Diabetes Alarm Kesehatan Global, Indonesia Masuk 5 Besar Dunia!
DigiTripX.id – Indonesia kini menempati peringkat kelima. Sebagai negara dengan jumlah penderita diabetes terbanyak di dunia. Yup, berdasarkan data terbaru, ada sekitar 19,5 juta orang di Indonesia yang hidup dengan penyakit ini. Lebih mengejutkan lagi, negara-negara yang menempati urutan teratas adalah:
-
China – 140,9 juta orang
-
India – 74,2 juta orang
-
Pakistan – 33 juta orang
-
Amerika Serikat – 32,2 juta orang
-
Indonesia – 19,5 juta orang
Angka-angka ini bikin geleng-geleng kepala. Menurut laporan dari Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI). Melonjaknya kasus diabetes erat kaitannya dengan pola konsumsi makanan dan minuman tinggi gula, garam, dan lemak (GGL). Salah satu tersangka utamanya? Tak lain dan tak bukan Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK).
Baca Juga : Bye-bye Nyeri Ulu Hati! 5 Daun Penyelamat Asam Lambung Tinggi
Dari Obesitas hingga Penyakit Kronis: Efek Domino GGL
Tren mengkhawatirkan nggak berhenti di diabetes saja. Obesitas juga ikut melonjak tajam. Data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan bahwa tingkat obesitas di Indonesia meningkat lebih dari dua kali lipat dalam 15 tahun terakhir, dari 10,5% pada 2007 menjadi 23,4% pada 2023. Nah, minuman manis dalam kemasan ini jadi biang keladi yang nggak bisa di abaikan.
Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2023, 2 dari 3 orang Indonesia minum setidaknya satu MBDK setiap hari. Dan dampaknya? Jangan di anggap enteng. Studi meta-analisis global yang di kutip CISDI menyebut bahwa konsumsi 250 ml MBDK per hari bisa meningkatkan risiko:
-
Diabetes tipe 2 hingga 27%
-
Obesitas sebesar 12%
-
Penyakit jantung sebesar 13%
-
Kematian dini sebanyak 10%
MBDK = Bikin Sakit, BPJS Menjerit
Bukan cuma soal kesehatan, tapi juga soal biaya. Beban BPJS Kesehatan untuk menanggung penyakit-penyakit kronis ini makin membengkak. Dalam 5 tahun terakhir, biaya penyakit katastropik seperti diabetes, obesitas, dan hipertensi naik drastis. Dari Rp19 triliun (2019) menjadi Rp32 triliun (2023) alias naik lebih dari 43%.
Saatnya Bertindak: Label Gizi dan Cukai MBDK
CISDI pun mengingatkan bahwa intervensi tegas dari pemerintah sangat di butuhkan. Salah satu langkah yang mereka dorong adalah penerapan label gizi di bagian depan kemasan (Front-of-Package Labeling/FOPL) dan pengenaan cukai untuk MBDK. Tujuannya? Tentu saja untuk menekan konsumsi GGL dan menurunkan risiko penyakit tidak menular.
Langkah ini juga sejalan dengan target pemerintah dalam RPJMN 2025–2029 untuk mengendalikan laju obesitas dan penyakit kronis lainnya. Tanpa regulasi yang kuat, bukan tidak mungkin jumlah penderita diabetes di Indonesia akan terus naik seiring dengan mudahnya akses ke pangan yang tidak sehat.
Catatan Kecil, Dampak Besar
Mungkin kamu pikir, “Ah, cuma satu gelas minuman manis kok.” Tapi ternyata, dampaknya bisa sangat besar bagi tubuhmu, dan bagi sistem kesehatan nasional. Mulai hari ini, yuk lebih bijak dalam memilih asupan. Karena sehat itu bukan sekadar pilihan, tapi investasi jangka panjang.



