Interest

Gencatan Senjata Trump di Teluk Bikin Harga Minyak Turun, Tuh!

DigiTripX.id – Dunia sempat menghela napas lega setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu di kawasan Teluk. Syaratnya? Selat Hormuz harus dibuka kembali secara “lengkap, segera, dan aman.”

Hasilnya? Harga minyak langsung ngedrop drastis. Brent turun 12% dari US$103 menjadi US$91 per barel. Sejak awal pandemi COVID-19, harga minyak belum pernah se-volatil ini.

Tapi alert dulu! Di balik kabar baik itu, pasar energi masih chaos banget. Gejolak geopolitik, distribusi kacau, infrastruktur rusak, semuanya bikin pasar tetap tegang dalam waktu yang nggak sebentar.

Sebelum Gencatan Senjata, Harganya Bikin Kaget

Buat yang belum tahu, sebelum pengumuman itu, pasar energi lagi panas-panasnya. Harga minyak AS (WTI) sempat lebih mahal dari Brent, tanda jelas kalau pembeli lagi berebut pasokan.

Bahkan, harga Dated Brent sempat menyentuh rekor US$144 per barel cuma beberapa jam sebelum gencatan senjata diumumkan. Meski sekarang harga mulai turun, minyak masih lebih mahal sekitar 30% dibanding sebelum konflik. Sementara harga gas melonjak 40%.

Baca Juga : Bumi Bergerak, Gempa M 7,6 Guncang Sulut & Malut!

715 Kapal Terjebak, Mirip Macet di Tol

Salah satu penyebab utama gejolak ini? Penutupan Selat Hormuz. Saat ini, sekitar 187 kapal tanker dengan juta barel minyak dan produk olahan masih terjebak di kawasan Teluk.

Nggak cuma itu, ada juga:

  • 15 kapal LNG (gas alam cair)

  • Puluhan kapal pengangkut pupuk

  • Total 715 kapal jika termasuk kargo lainnya

Secara teori, kemacetan ini bisa diurai dalam satu minggu. Tapi realitanya? Banyak operator kapal masih ogah melintas sebelum keamanan benar-benar terjamin.

Contohnya, saat Houthis berhenti menyerang kapal di Laut Merah pada Oktober 2025, Maersk—perusahaan pelayaran raksasa tetap butuh waktu dua bulan buat berani melintas lagi.

Biaya Lintas Mahal, Kapal Kecil Bisa Kolaps

Selain rasa takut, premi asuransi kapal ikut melonjak. Akibatnya, pemulihan lalu lintas pelayaran bakal makan waktu berminggu-minggu dengan biaya yang jauh lebih tinggi dari sebelum perang.

Yang lebih byar pet: selama konflik, kapal yang mau melintas harus bayar ke Iran hingga US$2 juta sekali jalan. Kalau pulang-pergi? Bisa US$4 juta! Analis Johannes Rauball dari Kpler bilang, biaya segitu bikin kapal kecil kayak Aframax (600.000-800.000 barel) nggak bisa beroperasi lagi.

Proses Pemulihan: Nggak Instant Kayak Mi Instan

Meski kemacetan terurai, dampaknya ke pasokan energi global nggak akan terasa langsung. Kapal ke Asia butuh minimal 3 minggu. Ke Eropa? 4-6 minggu.

Sementara itu, banyak kapal udah beralih ambil muatan dari wilayah lain. Jadi normalisasi pasokan bisa makan waktu berbulan-bulan.

Produksi Mintek dan Gas: Rusak Parah

Di sisi produksi, dampaknya lebih serem lagi. Konflik udah memangkas lebih dari 10 juta barel per hari, sekitar 10% dari permintaan global. Dan pemulihan nggak bisa instan karena risiko merusak sumur minyak.

Sektor gas? Lebih berat. Serangan ke fasilitas LNG di Qatar merusak sekitar 17% kapasitas produksi. Waktu perbaikannya? 3–5 tahun! Bahkan untuk kembali ke kapasitas penuh, fasilitas yang masih berfungsi aja butuh hampir empat bulan.

Jangan Keburu Senang Dulu

Gencatan senjata dan pembukaan Selat Hormuz memang kabar baik. Tapi pasar energi masih far from stable. Antara ketakutan operator kapal, biaya selangit, infrastruktur hancur, dan waktu pemulihan yang lama.

Digitripx

Your Digital Destination. Channel Youtube : DigiTripX Media

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button