DigiTripX.id – Hapus gambar Gua Lascaux di Prancis atau Altamira di Spanyol dari benakmu sebagai “rahim” seni manusia. Gelar lukisan cadas tertua di dunia kini resmi berpindah ke Nusantara. Sebuah penelitian terbaru yang spektakuler mengungkap bahwa lukisan cap tangan di Gua Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, berusia setidaknya 67.800 tahun. Temuan ini menggeser rekor sebelumnya dan yang lebih dahsyat, mengubah peta sejarah migrasi dan ledakan kreativitas manusia purba di muka Bumi.
Penemuan yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bergengsi Nature ini adalah hasil kolaborasi panjang arkeolog Indonesia dan Australia. Mereka membuktikan bahwa nenek moyang kita, Homo sapiens, sudah menjadi seniman ulung ribuan tahun sebelum diperkirakan, dan bukan di Eropa, melainkan di jantung Indonesia.
Bukan Cuma Cap Tangan Biasa, Tapi Ada Sentuhan “Filter Jari”
Lukisan tertua dunia itu adalah stensil cap tangan berwarna merah. Teknik pembuatannya canggih untuk zamannya. Sang seniman prasejarah menempelkan telapak tangan ke dinding gua, lalu menyemprotkan pigmen dari mulutnya. Saat tangan diangkat, terbentuklah bayangan tangan yang sempurna.
Namun, yang bikin para peneliti terkagum-kagum adalah modifikasi bentuk jarinya. “Jari-jari pada cap tangan itu dibuat lebih kurus dan memanjang, menyerupai cakar. Ini transformasi kreatif yang tidak biasa,” jelas Prof. Adam Brumm dari Griffith University, salah satu peneliti utama. Dia menyebutnya sebagai “hal yang sangat khas dilakukan manusia” – bukti awal kemampuan berpikir abstrak dan berimajinasi.
Salah satu cap tangan itu juga diduga milik seorang anak-anak. “Ini menunjukkan seni bukan aktivitas eksklusif kaum pria dewasa atau pemburu saja. Ini adalah ekspresi komunitas,” tambah Adhi Agus Oktaviana, peneliti BRIN yang terlibat.
Baca Juga : Prof. Adam Brumm: Lukisan Gua Leang-Leang Lebih Penting dari Monalisa!
Muna vs Spanyol: Selisih 1.100 Tahun dan Makna yang Lebih Dalam
Temuan di Muna ini secara resmi mengalahkan klaim lukisan tertua sebelumnya di Gua Maltravieso, Spanyol, yang berusia 64.000 tahun (dan masih diperdebatkan). Bukan hanya selisih 1.100 tahun yang membuatnya menang, tetapi juga konteksnya.
Lukisan di Spanyol diduga dibuat oleh manusia Neanderthal. Sementara di Metanduno, jelas adalah karya Homo sapiens, manusia modern seperti kita. Selain itu, lukisan Neanderthal di Spanyol tidak menunjukkan modifikasi kreatif seperti “jari cakar” yang ditemukan di Muna.
“Ini membuktikan bahwa Homo sapiens tidak menunggu sampai di Eropa untuk menjadi seniman. Kapasitas berpikir simbolis ini sudah matang di Sulawesi, di Nusantara,” tegas Adhi.
Menguak Usia dengan Teknologi Laser Canggih
Bagaimana cara menentukan usia lukisan yang super tua ini? Tim peneliti menggunakan metode mutakhir bernama laser-ablasi uranium-series (LA-U-series).
Mereka menganalisis lapisan kalsit (mineral seperti kulit bawang) yang secara alami tumbuh menutupi dan berada di bawah pigmen lukisan. Dengan laser berpresisi tinggi, mereka bisa menghitung usia lapisan mineral tersebut, sehingga mengetahui batas minimal usia lukisan di bawahnya. Metode ini jauh lebih akurat daripada teknik sebelumnya.
Gua yang Hidup dengan 316 Lukisan dari Dua Zaman
Gua Metanduno, yang dalam bahasa Muna berarti “menyeruduk” (karena banyak lukisan hewan bertanduk), bukanlah gua tersembunyi. Lokasinya mudah diakses, hanya 15 menit dari kota. “Tidak ada kelelawar, jadi aromanya juga nyaman,” cerita Basran Burhan, arkeolog Indonesia dari Griffith University yang turun langsung ke lapangan.
Yang menakjubkan, gua ini seperti galeri seni prasejarah berlapis waktu. Di dekat mulut gua, terdapat hamparan lukisan besar berwarna cokelat, merah, dan jingga yang “masih muda”—berusia 30.000-50.000 tahun. Gambarnya beragam: binatang mirip sapi, manusia menunggang kuda, perahu, hingga adegan berburu.
Sementara sang juara dunia, lukisan cap tangan “jari cakar” yang berusia 67.800 tahun itu, berada di bagian dalam gua yang lebih tersembunyi dan jumlahnya kurang dari sepuluh. “Analisis kami menunjukkan aktivitas seni di sini berlangsung berulang kali selama setidaknya 35.000 tahun. Ini bukan sekadar persinggahan, tapi kawasan yang penting secara kultural,” papar Basran. Secara total, ada sekitar 316 gambar cadas di situs ini.
Baca Juga : Leang-Leang Maros: Saat Jadi Panggung Peradaban Purba dalam Gau Maraja 2025!
Rantai Penemuan di Nusantara yang Mengubah Sejarah Dunia
Temuan di Muna adalah puncak gunung es dari rangkaian penemuan revolusioner di Indonesia yang sedang menulis ulang buku teks prasejarah dunia:
-
1950: Penelitian awal di Leang Pettae, Kawasan Karst Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan, oleh H.R van Heekeren menemukan gambar tangan dan babi rusa. Ini jadi pembuka jalan.
-
2018: Lukisan berusia 40.000 tahun ditemukan di Karst Sangkulirang-Mangkalihat, Kalimantan Timur.
-
2024 (Awal Tahun): Adegan berburu berusia 44.000 tahun di Leang Bulu’ Sipong 4 dan figur manusia dengan babi berusia 51.200 tahun di Leang Karampuang, kembali di Maros-Pangkep, ditemukan. Lukisan di Karampuang kini memegang rekor adegan naratif tertua di dunia.
Rangkaian temuan ini secara telak mematahkan teori “ledakan kreatif manusia modern” yang konon hanya terjadi di Eropa sekitar 40.000 tahun lalu. “Saat saya kuliah di pertengahan 90an, itu yang diajarkan. Sekarang argumen Eropa-sentris itu susah dipertahankan,” Prof. Adam Brumm.
Makna Besar: Dari Migrasi Awal hingga Fondasi Peradaban
Penemuan ini bukan sekadar perlombaan angka usia. Ia memiliki implikasi besar:
-
Migrasi Lebih Awal: Menguatkan dugaan bahwa manusia sudah mencapai daratan Australia-Papua Nugini sekitar 15.000 tahun lebih awal dari perkiraan sebelumnya.
-
Fondasi Kemanusiaan: Lukisan gua adalah penanda kemampuan kognitif tertinggi: berpikir simbolis dan abstrak. Inilah bibit awal dari bahasa, agama, cerita, dan sains. Manusia mulai tidak hanya bereaksi pada dunia, tetapi juga merepresentasikannya.
-
Nusantara sebagai Jantung Kreativitas: “Nusantara adalah jembatan peradaban,” simpul para peneliti. Dari sini, terlihat jelas bahwa kreativitas adalah sifat bawaan Homo sapiens yang dibawa dari Afrika, dan mekar sempurna di kepulauan Indonesia jauh sebelum sampai di Eropa.
Dinding Gua Metanduno yang sejuk kini menyimpan gelar prestisius. Lebih dari sekadar rekor, lukisan berusia 67.800 tahun itu adalah suara lantang dari masa lalu yang menyatakan. Peradaban artistik dan simbolik manusia tidak lahir di Eropa. Ia lahir, tumbuh, dan mencapai kematangannya yang sangat awal di tanah Nusantara. Indonesia, dengan kekayaan situs prasejarahnya seperti di Maros-Pangkep, Kalimantan, dan kini Muna, telah menjadi pusat gravitasi baru untuk memahami asal usul kreativitas dan pikiran manusia modern.
Dilansir: BBC News Indonesia



