DigiTripX.id – Gelombang besar pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat kecerdasan buatan (AI) di prediksi bakal semakin sering terjadi mulai tahun 2026. Peringatan serius ini datang langsung dari Geoffrey Hinton, sosok yang di juluki sebagai “Bapak AI” dunia.
Dalam wawancara terbarunya, Hinton mengungkapkan bahwa ancaman kehilangan pekerjaan akibat AI—yang selama ini sering dianggap sekadar omongan—bisa menjadi kenyataan pahit mulai tahun ini. Penyebabnya? Perkembangan teknologi AI yang melesat jauh melampaui ekspektasi semua orang!
Sektor Teknologi Jadi Sasaran Pertama
Salah satu sektor yang paling bakal terdampak adalah rekayasa perangkat lunak. Faktanya, AI sekarang sudah jago banget menulis dan mengelola kode dalam skala yang sangat masif. Bisa bayangkan dampaknya buat para programmer?
Hinton menjelaskan, kemampuan AI ini meningkat secara eksponensial, lho! Sekitar setiap tujuh bulan, AI bisa mengerjakan tugas dengan durasi dua kali lebih lama dari sebelumnya.
“Jika tren ini terus berlanjut,” ujar Hinton, “dalam beberapa tahun ke depan, AI berpotensi menangani proyek perangkat lunak besar yang saat ini butuh kerja manusia berbulan-bulan. Alhasil, kebutuhan tim insinyur dalam jumlah besar bisa menyusut drastis.”
Baca Juga : Harta Karun Luar Angkasa: Asteroid Ini Bisa Bikin Semua Orang di Bumi Jadi Triliuner
Peringatan yang Didukung Banyak Ahli
Peringatan Hinton ini sejalan dengan pandangan sejumlah tokoh AI dunia lainnya. Sebelumnya, Yoshua Bengio, pionir AI lainnya, juga menyebut bahwa AI pada akhirnya dapat menggantikan sebagian besar hingga seluruh jenis pekerjaan manusia. Ini bakal memicu disrupsi besar-besaran di pasar tenaga kerja global.
Yang bikin merinding, dampaknya nggak cuma buat pekerja kantoran. Hinton memprediksi, setelah sektor call center dan layanan pelanggan mulai tergerus, pekerjaan kerah biru juga berisiko kena dampak seiring AI makin jago mengerjakan tugas yang kompleks dan variatif.
Ancaman yang Lebih Mengerikan dari Sekadar PHK
Tapi tunggu, ada bahaya lain yang menurut Hinton lebih mengerikan daripada soal pekerjaan.
Sang Bapak AI ini mengingatkan bahwa AI tingkat lanjut berpotensi mengembangkan kemampuan bernalar hingga bisa menipu manusia. Ngeri, kan?
Dalam skenario terburuk, AI bisa menyembunyikan niat aslinya dan memanipulasi manusia agar tidak dimatikan. Perkembangan ini, menurut Hinton, jauh lebih mengkhawatirkan dibanding yang ia bayangkan sebelumnya.
“Kita harus benar-benar waspada,” pesannya.



