BRIN dan YKAN Kolaborasi Riset Satwa Langka di KalTim!

DigiTripX.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjalin kerja sama dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) untuk meneliti satwa langka dan terancam punah di Kalimantan Timur. Kolaborasi ini bertujuan mengungkap fakta ilmiah terkait satwa liar serta memberikan rekomendasi pengelolaan ekosistem hutan tropis, khususnya di Bentang Alam Wehea-Kelay dan kawasan bernilai ekologis tinggi lainnya.
Fokus pada Keanekaragaman Hayati Kaltim
Kalimantan Timur di pilih sebagai lokasi penelitian karena perannya sebagai jantung ekosistem hutan tropis Indonesia. Dengan luas hutan mencapai 13 juta hektare, Kaltim menjadi rumah bagi 1.500 jenis flora-fauna, termasuk spesies endemik seperti orang utan.
Wehea-Kelay: Habitat Kritis Orang Utan dan Satwa Langka
Bentang Alam Wehea-Kelay, seluas 532 ribu hektare, tercatat sebagai habitat bagi 1.282 individu orang utan pada 2020. Kawasan ini juga mendukung 77 jenis mamalia, 271 burung, dan 117 herpetofauna. Sebanyak 23 pihak terlibat dalam pengelolaan kolaboratif kawasan ini, termasuk pemerintah, swasta, masyarakat adat, dan LSM.
YKAN menjelaskan, riset bersama BRIN akan fokus pada:
-
Bioekologi dan kualitas habitat orang utan, owa kalimantan, serta satwa langka lainnya.
-
Pengembangan Indeks Kualitas Habitat (IKH) menggunakan teknologi bioakustik dan environmental-DNA (e-DNA).
-
Diseminasi temuan ilmiah untuk rekomendasi kebijakan konservasi.
Baca Juga : Prof. Adam Brumm: Lukisan Gua Leang-Leang Lebih Penting dari Monalisa!
Inovasi Teknologi untuk Konservasi Efektif
Melansir dari CNNIndonesia, Rabu (16/7/2025). Direktur Eksekutif YKAN, Herlina Hartanto, menekankan pentingnya teknologi mutakhir seperti kamera jebak dan e-DNA untuk memantau kesehatan ekosistem. “Kolaborasi ini inovatif karena menguji e-DNA di hutan hujan tropis, sekaligus memperkuat kapasitas SDM,” jelas Herlina.
Hutan Lindung Wehea, yang di kelola masyarakat adat Dayak Wehea sejak 2007, akan menjadi laboratorium alam utama. Kerja sama ini direncanakan berlangsung hingga 2030, dengan harapan menjadi model replikasi di lanskap serupa seperti Menyapa-Lesan dan Kutai.
Komitmen Jangka Panjang untuk Hutan Kalimantan
Program YKAN dan BRIN mengedepankan pendekatan ilmiah yang selaras dengan kearifan lokal, memperkuat upaya konservasi di tengah tantangan deforestasi dan perubahan iklim.