Interest

Maryam Al Astrulabi, Wanita Hebat di Balik Teknologi Astrolabe!

DigiTripX.id – Di zaman yang serba digital ini, ketika kita ingin pergi ke suatu tempat atau mengecek posisi tertentu, biasanya kita langsung membuka aplikasi seperti Google Maps atau Waze. Mau melihat langit dan mengamati benda-benda antariksa? Kita bisa dengan mudah menggunakan teleskop canggih. Namun pernah nggak sih terbayangkan, gimana ya manusia ribuan tahun lalu melakukan semua ini?

Percaya atau nggak, ribuan tahun yang lalu, manusia telah mampu menemukan jalan, mengukur jarak antar-bintang, menghitung tinggi gunung, bahkan menentukan arah kiblat dan waktu Ramadan tanpa bantuan teknologi digital. Rahasianya ada pada satu alat ajaib bernama astrolabe.

Menariknya, ternyata astrolabe di kembangkan oleh seorang perempuan Muslim bernama Maryam Al Ijlya, yang lebih dikenal sebagai Maryam Al Astrulabi. Perempuan hebat asal Suriah ini lahir pada abad ke-10 dari keluarga pembuat astrolabe, dengan sang ayah, Al Ijliy Al-Astrulabi, sebagai inspirasi utamanya.

Baca  Juga : Lesotho Si ‘Kerajaan di Langit’ Kejutkan Donald Trump dan Dunia!

Maryam nggak cuma ahli membuat astrolabe, ia juga memainkan peran penting dalam melacak posisi matahari, bulan, bintang, dan planet. Berkat jasanya, umat Islam pada masa itu bisa menentukan arah kiblat secara akurat serta memastikan waktu salat dan awal Ramadan. Tentu saja, buat umat Islam, posisi matahari memang punya peran krusial dalam menentukan waktu salat.

Prestasi Maryam nggak berhenti sampai di situ. Pada masa pemerintahannya Sayf Al Dawla, pendiri Emirat Aleppo (944-967 Masehi), Maryam dipercaya bekerja di istana kerajaan. Ia pun menjadi sangat terkenal di seantero wilayah sebagai pembuat astrolabe paling detail pada masanya.

Sayangnya, kontribusi besar Maryam baru mendapat pengakuan luas pada tahun 1990 ketika Henry H. Holy menamai sebuah asteroid sebagai penghormatan padanya, yakni asteroid 7069 Al Ijliyye.

Astrolabe sendiri merupakan alat astronomi yang terdiri dari piringan logam atau kayu bertanda derajat dengan jarum penunjuk yang berputar, disebut alidade. Alat ini digunakan luas oleh astronom Muslim dan Eropa di Abad Pertengahan, jauh sebelum kehadiran alat navigasi modern seperti sextant.

Baca  Juga : Menahan Lapar Saat Puasa? Ternyata Bisa Bikin Awet Muda!

Kisah inspiratif Maryam bahkan menarik perhatian penulis fiksi ilmiah terkenal, Nnedi Okorafor. Pada tahun 2016, Okorafor mengungkapkan bahwa sosok Maryam Al Astrulabi-lah yang menjadi inspirasinya dalam menulis novel pemenang penghargaan, “Binti”. Okorafor mengenal Maryam saat menghadiri festival buku di Uni Emirat Arab.

Maryam Al Astrulabi kini di akui sebagai salah satu dari 200 astronom paling terkemuka dalam sejarah. Nggak heran, 1001 Penemuan turut mengabadikan namanya sebagai perempuan luar biasa dari Zaman Keemasan Islam.

Jadi, setiap kali kita menggunakan teknologi modern untuk navigasi atau astronomi, nggak ada salahnya kita ingat sejenak pada Maryam Al Astrulabi—sang wanita hebat di balik teknologi astrolabe yang mengubah dunia.

Digitripx

Your Digital Destination. Channel Youtube : DigiTripX Media

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button